Di tengah hiruk-pikuk proyek pembangunan Kawasan Industri Pulau Penebang (KIPP) di Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat, Eni Andriani siaga bersama tim satuan pengamanan menjaga proyek strategis nasional (PSN) itu.
Dara asli daerah berjuluk Negeri Bertuah ini tampil istimewa di antara barisan pria satuan pengamanan yang menjadi garis terdepan dalam menjaga dan menyambut para pekerja yang keluar-masuk gerbang KIPP.
Setiap hari, dengan seragam rapinya dan gerak yang sigap, perempuan berusia 19 tahun ini mengikuti ritme kerja yang menuntut disiplin tinggi. Eni menjadi gambaran generasi muda Kayong Utara yang tidak hanya “hadir”, tetapi juga mengambil peran penting dalam kawasan industri yang diproyeksikan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru.
Eni lahir dan besar di Sukadana, wilayah pesisir di Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan. Ayahnya seorang nelayan, ibunya berjualan di depan rumah. Sebagai anak keempat dari empat bersaudara, ia tumbuh dalam lingkungan bersahaja yang mengajarkannya tentang kemandirian sejak dini. Sebagai pemudi dari Kayong Utara, Eni tidak hanya bekerja untuk dirinya sendiri, tetapi juga turut berkontribusi dalam mendorong kemajuan kampung halamannya melalui perannya di Kawasan Industri Pulau Penebang.
Sebelum mengenakan seragam satuan pengamanan, Eni sudah terbiasa bekerja. Ia pernah bekerja di warung kopi hingga menjual pakaian. Latar belakang pendidikannya pun sebenarnya tidak mengarah ke profesi yang ia jalani saat ini. Ia lulusan SMK Perhotelan, bahkan pernah magang selama enam bulan di bidang tersebut. Namun pilihan hidup tidak selalu lurus mengikuti jurusan sekolah.
“Saya memang suka pekerjaan yang banyak gerak dan ketemu orang. Dari dulu juga hobi olahraga, main bola,” ujar gadis bersuara merdu yang hobi menyanyi ini.
Ia menceritakan, keputusan menjadi satpam muncul dari hal sederhana; video pelatihan satpam yang ia lihat di TikTok. Dari sana, muncul keinginan untuk mencoba.
Di Pulau Penebang, komposisi petugas keamanan masih sangat timpang: sekitar 80 laki-laki dan hanya empat perempuan. Dalam pelatihan awal pun, Eni adalah satu-satunya perempuan di antara lebih dari 50 peserta laki-laki.
Situasi itu tak luput dari tantangan. Eni mengaku pernah dipandang sebelah mata. Tapi, seiring waktu, ia menjawabnya dengan konsistensi.
Latihan fisik yang berat dijalani tanpa keluhan. Rutinitas kerja dijalani dengan disiplin. Dari apel pagi, bina fisik seperti push-up dan olahraga, hingga tugas administrasi seperti pendataan keluar-masuk pekerja, semuanya ia lakukan dengan serius.
“Saya tidak pernah merasa minder. Pembagian tugas tetap disesuaikan. Saya justru bersyukur bisa sampai di tahap ini,” ujarnya.
Dalam kesehariannya, Eni juga kerap berhadapan dengan situasi yang menuntut ketegasan, termasuk ketika harus menegur pekerja yang melanggar aturan. Ia melakukannya dengan profesional dan tanpa ragu.
“Saya akan menegur dengan tegas, dan diingatkan saja terkait aturan,” katanya.
Tumbuh Bersama Perusahaan
Manager Security KIPP Arif Miftakudin memuji kemampuan Eni.
“Eni adalah sosok tangguh dan memiliki visi kehidupan yang jelas. Saya perhatikan, dalam interaksi dengan sesama rekan kerjanya, ia juga pribadi yang supel,” katanya.
Menurut Arif, Eni cepat menyesuaikan diri dan cepat memahami serta mampu menjalankan tugas yang diberikan oleh atasan dengan baik. Eni memiliki visi dalam kehidupan pribadinya sehingga menata setiap aspek kehidupan tertata dengan baik. Sebagai contoh, Eni tidak hanya berhenti di tingkat SMA. Namun di antara kesibukan kerjanya, ia juga kuliah.
Selama bekerja di Pulau Penebang, ambisi Eni terus berkembang. Ia melihat peluang di balik pekerjaannya. Ia memahami bahwa berada di kawasan industri yang sedang berkembang membuka ruang untuk belajar dan bertumbuh. Demi menunjang karirnya di masa depan, ia kini menempuh pendidikan S1 Manajemen di Universitas Terbuka. Tahun ini menjadi langkah awal perkuliahannya, dengan seluruh biaya pendidikan yang ia tanggung sendiri dari hasil kerja kerasnya.
Kini, ia memiliki tujuan yang jelas: menyelesaikan pendidikan dan suatu hari berkarier di perkantoran.
“Saya ingin terus berkembang, tidak berhenti di posisi sekarang,” ujarnya, penuh keyakinan.
Eni merasa beruntung bisa bergabung saat kawasan ini masih dalam tahap awal pengembangan.
“Kesempatannya besar. Kita bisa berkembang bersama perusahaan,” katanya.
Rasa syukur itu bukan tanpa alasan. Selain memberikan penghasilan tetap, pekerjaannya juga membuka akses terhadap pengalaman baru. Ia bisa berinteraksi dengan banyak orang, memahami sistem kerja profesional, hingga membangun kepercayaan diri.
Sebagai pribadi yang ekstrovert, ia menikmati dinamika tersebut.
“Saya senang karena bisa ketemu banyak orang,” ujarnya.
Di sisi lain, keluarganya pun memberikan dukungan penuh. Orang tuanya tidak membatasi pilihan karirnya, selama ia mampu dan sanggup menjalaninya.
Di tengah geliat pembangunan kawasan industri, kisah Eni Andriani menjadi pengingat bahwa transformasi tidak hanya terjadi pada infrastruktur, tetapi juga pada manusia di dalamnya.
Dan dari pintu gerbang Kawasan Industri Pulau Penebang, seorang pemudi Kayong Utara sedang membuka pintu masa depannya menuju menuliskan cerita tentang keberanian, kemandirian, dan harapan yang terus ia kejar, selangkah demi selangkah. (*)